Selasa, 13 April 2010

MANUSCRIPT KERAJAAN BATTA ( BATAK )

Erond L. Damanik, M.Si : Manuscript yang ada dan meriwayatkan tentang kerajaan Nagur adalah Parpadanan Na Bolag (PNB). Namun demikian, manuskrip itu membutuhkan analisis tajam serta kehati-hatian yang tinggi karena banyak menyebut nama person, peristiwa dan daerah yang kini tidak dapat di compare dengan peta yang ada. Misalnya, dimanakah Padang Rapuhan, atau dimanakah Hararasan, atau Bondailing?. Oleh sebab itu, terhadap manuskrip tersebut mutlak dilakukan Discourse Analysis, sehingga dapat memunculkan makna yang terkandung dalam teks atau naskah.

Literatur Simalungun yang mencoba menyajikan tentang Nagur adalah Hukum Adat Simalungun (Djahutar Damanik, 1984) atau Sejarah Simalungun (TBA Tambak, 1976) tidak banyak mengupas tentang manuskrip dan keberadaan Nagur, namun cenderung menuliskannya berdasarkan oral tradition version. Demikian pula pada buku Pustaha Simalungun yang tersimpan di Perpustakaan Daerah Sumut yakni hasil transliterasi latin oleh JE. Saragih, masih terbatas pada tradisi pengobatan yang ada di Simalungun, tak satupun dalam pustaha tersebut merujuk pada nama ‘Nagur’.

Persoalan lainnya adalah, bahwa riwayat kerajaan Nagur (Nakkureh, Nakkur, Japur) banyak disebut dalam laporan pengelana Eropa dan Tiongkok, namun dimanakah letak daripada kerajaan tersebut masih membutuhkan analisis panjang yang melibatkan Arkeolog dan Sejarawan. Dengan demikian, riwayat kerajaan Nagur dinasti Damanik di Simalungun tersebut masih memerlukan penelitian dan pengkajian secara menyeluruh (komprehensif) terutama dengan melibatkan arkeolog dan sejarawan serta antropolog sehingga riwayat kerajaan besar tersebut semakin sempurna dan berlandaskan perspektif ilmiah. Lagipula, penelitian dan kajian ilmiah, mutlak dilakukan untuk mendukung sejarah lisan yang berkembang dalam masyarakat.

Berdasarkan persepsi literer (kepustakaan) tersebut diatas, diyakini bahwa kerajaan Nagur pernah eksis di Sumatra Timur tepatnya di Simalungun. Paling tidak hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan-catatan dari pengelana asing yang singgah di Sumatra Timur dari abad ke-6 hingga ke 16. Demikian pula tersedianya manuskrip yang meriwayatkan kerajaan tersebut, ataupun dikenalnya kerajaan tersebut melalui tradisi lisan. Namun demikian, untuk memperjelas eksisitensi kerajaan tersebut, baiknya dilakukan penelitian dan pengkajian yang melibatkan lintas disiplin sehingga dapat diterima kebenarannya. Paling tidak, saran ini bermanfaat atau ditujukan kepada pemerintah kabupaten Simalungun di Pematang Raya, ataupun pihak-pihak, badan atau instansi yang berwenang, demikian pula lembaga kemasyarakatan Simalungun yang ada.

Penulis: Erond L. Damanik, M.Si
Peneliti pada Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan.

NAGUR : KERAJAAN BATTA ( BATAK )

Erond L. Damanik, M.Si : Kerajaan Nagur diyakini merupakan salah satu kerajaan besar di Sumatra Utara yang kini diperkirakan berlokasi di Simalungun, penguasa ataupun pemerintahnya adalah dinasti Damanik. Sumber-sumber tulisan tentang Nagur umumnya diperoleh dari tulisan pengelana Tiongkok seperti Cheng Ho dan Ma Huan. Tulisan-tulisan tersebut telah dikompilasi oleh Groenoveltd, dalam Historical Notes in Indonesia and Malay (1960). Selanjutnya, menurut catatan Parlindungan (2007) dalam bukunya Tuanku Rao, Nagur berdiri pada abad ke-5 dan runtuh pada abad ke-12. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa, Raja Nagur terakhir yang bernama Mara Silo, pada saat keruntuhan swapraja tersebut melarikan diri ke Aceh, berganti nama dan menjadi Islam. Di Aceh ia dikenal dengan gelar Malik As Saleh (Malikul Saleh). Dalam Riwayat Raja-Raja Pasai (penulis dan tahun penulis tidak diketahui), diakui bahwa pendiri kerajaan Pasai adalah Merah Silu.

Apabila angka yang disebutkan oleh Parlindungan tersebut dikomparasikan dengan laporan admiral Zheng Zhe (Cheng Ho) maka akan didapat bahwa, hingga tahun 1423, kerajaan Nagur masih berdiri. Didalam buku Zheng Zhe: Bahariawan Muslim Tionghoa (2002) disebut bahwa, admiral tersebut mengunjungi Nagur sebanyak 3 (tiga) kali. Pasukannya sangat terkenal dengan senjata panah beracun dan berhasil menewaskan raja Aceh. Dalam laporan pengelana Tionghoa tersebut, nama Nagur dituliskan dengan ‘Nakkur’; ‘Nakureh’ atau ‘Japur’. Hal senada juga diketahui dalam laporan Ma Huan yakni Ying Yei Seng Lan, dimana nama Nagur yakni ‘Napur’ merupakan kerajaan ‘Batta’ (Batak).

NAGUR, TETANGGA KERAJAAN ARU ( KARO)
Selanjutnya, dalam laporan Tomme Pires, penguasa Portugis di Malaka (1512-1515), dalam bukunya Summa Oriental terjemahan Cortesao (1944), banyak menyinggung nama Nagur yang berdekatan dengan Aru. Atau dalam tulisan Mendes Pinto yang berjudul Acehs Crusades against the Batak 1539. Demikian pula laporan Marco Polo yang melakukan perjalanan ke Sumatra pada tahun 1292 yakni, Cannibals and Kings: Nothern Sumatra in the 1290s. Pengelana lainnya adalah laksamana Prancis bernama Augustin De Beaulieu yang melakukan perjalanan ke Sumatra (Pasai) pada tahun 1621 dalam tulisannya yang berjudul The Tyranny of Iskandar Muda. Demikian pula pengelana Maroko Ibnu Battuta yang singgah di Pasai pada tahun 1345 dalam laporannya The Sultanate of Pasai around 1345.

Kerajaan Nagur juga banyak disebut dalam tulisan-tulisan Melayu seperti yang dituliskan oleh T. Lukman Sinar SH (Pewaris kesultanan Serdang), dalam bukunya Sari Sejarah Serdang Jilid-I (1974) ataupun Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Sumatra Timur (2007), ataupun TM. Lah Husny dalam bukunya Lintasan Sejarah Peradaban Penduduk Melayu Deli Sumatra Timur, (1976). Demikian pula dalam buku Tarik Aceh Jilid II yang batal diterbitkan. Selanjutnya, dalam tulisan-tulisan versi Karo seperti yang dilakukan oleh Brahmo Putro dalam bukunya Karo dari Zaman ke Zaman, (1984) justru cenderung ditulis dengan emosional, dengan cara meng-Karo-kan Aru, Nagur dan Batak Timur Raya.

Yang dimaksud dengan ‘Timur Raja’ dalam tulisan pemerintah colonial adalah kawasan Simalungun karena posisinya yang persis berada di pesisir Timur Sumatra Utara. Terbukanya tabir Sumatra secara heurastik, dimulai saat penguasa Inggris di Bengkulu yakni Thomas Raffles, mengutus William Marsden pada tahun 1770 untuk menyelidiki potensi ekonomi Sumatra. Buku penyelidikan tersebut kini sudah dibukukan dengan judul “The History of Sumatra (2007). Di dalam buku tersebut banyak dituliskan tentang potensi ekonomi di sepanjang sungai Asahan yang disebutnya dengan term ‘Batta’ (Batak). Kemungkinan yang dimaksud adalah orang Simalungun yang bermukim didaerah Itu.

Selanjutnya, pada tahun 1823, Whrite Philips, Gubernur Jenderal Inggris di Penang mengutus John Anderson untuk penyelidikan lebih intensif terhadap potensi ekonomi Sumatra. Buku laporan Anderson yang terkenal itu adalah Mission to the East Cost Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1826. Buku tersebut, juga telah mendeskripsikan keadaan di Asahan atau pesisir timur Sumatra. Kuat dugaan bahwa penghuni Asahan pada saat itu adalah orang Simalungun dimana daerah domisili orang Simalungun pada saat itu memanjang hingga Asahan, Batubara dan Pagurawan (Juandaharaya dan Martin Lukito, Tole den Timorlanden das Evanggelium, 2003). Buku yang lebih sempurna, berdasarkan tinjauan akademis dan sistematika ilmiah adalah karangan Edwin M. Loeb (1935) dengan judul Sumatra: Its History and the People. Dalam karangan itu, juga disebut tentang riwayat kerajaan di Simalungun. Sampai saat ini, beberapa nama / penamaan tempat / desa masih bernuansa Simalungun di daerah Asahan dan Labuhan Batu.

Penyelidikan tentang kondisi sejarah, kebudayaan dan penguasaan daerah sangat penting dilakukan terutama terhadap laporan-laporan pemerinatah Kolonial seperti laporan kepurbakalaan (Oudheikundig Verslag, OV), Laporan umum (Algemeen Verslag, AV), laporan Politik (Politiek Verslag), Laporan Penanaman (Cultuur Verslag) atau juga Laporan Serah Terima Jabatan (Memorie van Overgrave), seperti yang diwajibkan dalam tata administrasi kolonial, karena laporan-laporan tersebut banyak menuliskan tentang kondisi wilayah yang sedang dikuasai. Di Simalungun, nama-nama yang mesti diperhatikan adalah Tidemann, Kroesen, Theis, Westenberg, Neumann, Voorhoeve, dan lain-lain.

Keberadaan Nagur (512-1252) seperti dalam buku Tuanku Rao karangan MOP, dikatakan bahwa ayahnya, Sutan Martua Raja (SMR) adalah seorang guru Kristen di Pematang Siantar dan banyak mengumpulkan bahan-bahan sejarah. Hanya saja, dokumen-dokumen tersebut musnah terbakar sebelum sempat ditulis dengan sempurna. Buku Tuaku Rao hanyalah 20% dari sejumlah dokumen yang dikumpulkan oleh SMR. Bisa jadi, laporan SMR tentang Simalungun ikut musnah terbakar.

KEBERADAAN SUKU BATTA ATAU BATAK di SUMATERA

Marco Polo, mencatat bahwa etnik BATTA atau BATAK merupakan suku barbar (kanibal) sebagaimana peradaban pad era tahun 1290 (di benua Eropa). Sir Thomas Stamford Raffles, pernah mengunjungi Sumatera dan menemui suku BATAK. Ia mendapati suku BATAK yang memiliki variasi budaya dan hukum soial budaya.


Banyak buku-buku ilmiah yang telah dipublikasi oleh para petualang Eropa yang telah mengunjungi pulau Sumatera, khususnya suku Batak. Dalam berbagai sebutan mereka adalah suku Batta. Diantaranya mengatakan bahwa etnik Batak (Batta) telah ada di Sumatera jauh sebelum jaman Hindu. Bahkan dikatakan juga , bahasa Batak memeliki kesesuaian dengan bahasa Sansekerta Kuno ( San Scrit Origin ). Dikatakan pula, memiliki banyak persamaan kosa kata dengan bahasa lain seperti etnik : Jawa, Melayu, Minangkabau, Nias, Sunda, Makasar dan Tagalog (Philiphine).


Tahun 1866, Prof. Albert S. Bickmore, mengunjungi Sumatera Timur dan melihat populasi suku Batak yang besar. Bickmore berpendapat bahwa suku ini populasi bertumbuh dan berkembang di daerah ini, yaitu sekitar Danau Toba dan dataran Silindung. Dari sini lah kemudian populasi ini menyebar menuju pesisir dan kemudian berbaur dengan populasi Melayu di pesisir.
Read more >>>


Suku Batta dikenal disebabkan kepercayaan mereka yang memuja dewa Bata ( Na i Bata ) atau Debata atau Dibata. Suku Batta diyakini para penulis terdahulu sebagai suku dalam dan dikenal sebagai Kanibal. Masuknya peradaban Budha dan Hindu pada awal abad ke-6 ke Sumatera membawa perubahan kultur social. Hal ini dapat dilihat dari system monarkhi dan feodlaisme kerajaan-kerajaan terdahulu du Sumatera Timur yang dipengaruhi budaya-budaya Budha dan Hindu. Konon Batak terdesak ke pedalam setelah mulai masuknya pengaruh pedangan-pedangan Persia dan Arab pada Abad ke-7. Dekade ini sekaligus dikenal sebagai awal penyebaran ajaram Islam di Nusantara. Adalah Kerajaan Samudera Pase atau Samudra Pasai di Semenanjung Malaka ( Aceh / Achin ) sebagai bagian dari negeri Batta dan kemudian menjadi Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan modern Samudra Pasai kemudian melakukan terus melakukan penguasaan sampai keseluruh negeri Batta dan Minang Kabau.


Dalam dekade ini, pengaruh Budha dan Hindu semakin tersingkirkan dan digantikan dengan pengaruh dan ajaran Islam. Populasi Batta kemudian menjadi tercerai berai karena seringnya terjadi perang saudara diantara mereka akibat pengaruh kepentingan kereajaan-kerajaan moder pesisir waktu itu.


Pengaruh Hindu terbesar Hindu di Singasari kemudian melakukan invasi ke sumatera , Kerajaan Samudera Pasai. Pada fase ini, Pasukan Singasari dapat dipukul pasukan Samudra Pasai, bahkan konon pasukan Singasari banyak tercerai berai dipedalamnan Sumatera Timur dan akhirnya bersatu dengan populasi Batta. Dampak lain juga, di Sumatera Timur kemudian terlahir kerajaan kerajaan baru, seperti : Aceh , Tamiang, Siak. Namun demkian populasi Batta tidak memiliki kerajaan ( modern ) yang utuh, Populasi Batta tinggal berkelompok dan hidup berpindah-pindah dari satu belantara ke belantara yang lain. Meski populasi Batta memiliki sosial kekerabatan yang kuat, namun mereka terkotak-kotak, sehingga populasi ini lemah dan mudah di provokasi.


Takluknya kerajaan hindu Singasari kepada Majapahit membuat Samudra Pasai juga harus terbelah ketika Majapahit ( oleh Patih Gajah Mada ) melakukan invasi dan menundukkan Samudra pasai dan kemudian Majapahit mendirikan kerajaan-kerajaan satelit seperti Aceh Tamiang yang tunduk kepada Majapahit.

Senin, 12 April 2010

KILAS SEJARAH ALKITAB

Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.
Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa. Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab itu sangat langka dan sangat mahal harganya. Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka), lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan. Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya, pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.

Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus. Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh. Read more >>>

Kamis, 01 April 2010

Asal kata Easter ( Paskah )

Apakah Anda tahu tentang sejarah kata "Easter" ?
Easter merupakan kata bahasa Inggris yg berasal dari akar kata bahasa proto-Germanic yang memiliki arti "to rise" (atau bangkit). Dalam bahasa Jerman kontemporer kata "oest" dan dalam bahasa Inggris kata "east" -- keduanya memiliki arti Timur -- petunjuk arah saat matahari terbit (to rise -- bangkit dari kegelapan malam) di pagi hari; ini menjadi akar kata untuk "Easter". Fakta ini tidak hanya menunjuk pada kebangkitan Yesus dari kematian, namun juga kenaikan-Nya (to rise) ke Surga dan nanti saat kita terangkat (to rise) ke surga bersama-sama dengan Yesus Kristus saat Dia datang kembali untuk menghakimi dunia. Di Indonesia, istilan Easter adalah PASKAH.

Ada sebagian orang yang tidak percaya dan menganggap tidak benar bahwa kata "Easter" berasal dari "dewi Oestar" (Germanic) ataupun "dewi Ishtar"(Babilon, Arabia). Kedua dewi ini merupakan simbol kesuburan yang menunjukkan datangnya musim semi, kehidupan baru, dan pembaharuan. Penyimpangan kata "Ishtar" dapat dijumpai dalam Alkitab sebagai pahlawan wanita Yahudi yang bernama "Esther", yang mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri demi kepentingan bangsanya. Read More ?

Rabu, 31 Maret 2010

TAROMBO BATAK

Bangsa yang besar adalah bangsa yang melestarikan budayanya.
Berikut merupakan Silsilah (Tarombo) etnik Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.
SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)
*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan.
Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.
2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki.
Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN :
  1. RAJA UTI (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.
  2. SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia. Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung. Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing, konon mereka bermarga Bayoangin. Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.
  3. SI RAJA LONTUNG, putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu: * Putra: 1] Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang. 2] Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga. 3] Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan. 4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan. 5] Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang. 6] Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang. 7] Siregar, keturunannya bermarga Siregar.* Putri :1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora. Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
  4. Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.
  5. Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.
  6. Pandiangan lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.
  7. Nainggolan lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.
  8. Simatupang lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.
  9. Aritonang lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.
  10. Siregar lahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

SI RAJA BORBOR

Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor. Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :1. Datu Dalu (Sahangmaima). 2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap. 4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung. 5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan. 6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

  • Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat. 2. Tinendang, Tangkar. 3. Matondang. 4. Saruksuk.5. Tarihoran.6. Parapat. 7. Rangkuti.
  • Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.
  • Limbong Mulana dan marga-marga keturunannyaLimbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA

Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA

Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:1. Malau2. Manik 3. Ambarita 4. Gurning,

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra: I. Ambarita Lumban PeaII. Ambarita Lumban PiningLumban Pea memiliki dua anak laki-laki, yaitu : 1. Ompu Mangomborlan 2. Ompu Bona NihutaBerhubung. Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta.

Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta. Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki: 1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut) 2. Op Raja Marihot 3. Op Marhajang 4. Op Rajani UmbulS

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan). Op.Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidak dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir. Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas, Aek Batu. Keturunan Op.Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang) 2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon. Keturunan antara lain J.Ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com) 3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir. Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita

TUAN SORIMANGARAJA

Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu : 1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan. 2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon). Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton. Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon. Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.

Nai Ambaton

(Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon) Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya. Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu: 1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon. 2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba. 3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi. 4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung) :

SIMBOLON, lahir marga-marga: Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA, lahir marga-marga : Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabalok, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI, lahir marga-marga : Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE, lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan Waldemar Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh. Tetapi menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga Gajah, menentang pernyataan Waldemar Hutagalung dan menjelaskan bahwa asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa. 2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin. 3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit. 4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad. 5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)

Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:Raja MardopangMenurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.Raja MangaturMenurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA)

Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Tuan Sorbadibanua. Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.Dari istri pertama (putri Sariburaja) : [1] Si Bagot Ni Pohan. [2] Si Paet Tua. [3] Si Lahi Sabungan. [4] Si Raja Oloan. [5] Si Raja Huta Lima. Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) : [1] Si Raja Sumba [2] Si Raja Sobu. [3] Toga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat. Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.

  • Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.
  • Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.3. Pangaribuan, Hutapea.Keturunan
  • Si Lahi Sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut : {1} Sihaloho {2} Situngkir, Sipangkar, Sipayung {3} Sirumasondi, Rumasingap, Silalahi, Depari, Sinabutar, Sinabang, Naiborhu, Sinurat, Doloksaribu, Nadapdap {4} Sidabutar {5} Sidabariba, Solia {6} Sidebang, Boliala {7} Pintubatu, Sigiro {8} Tambun , Tambunan.
  • Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut: [1] Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa [2] Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga [3] Bangkara [4] Sinambela, Dairi [5] Sihite, Sileang [6] Simanullang.
  • Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Maha.2. Sambo.3. Pardosi, Sembiring Meliala.
  • Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.
  • Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Sitompul.2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.
  • Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987)